Untuk Apa Kita Menghafal Al-Qur’an?
Pertama, mari kita ingat firman Allah dalam Surat Al-Qamar, yang diulang sampai empat kali:
“Dan sungguh telah Kami mudahkan Al-Qur’an untuk diingat, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?”
Artinya, Allah sendiri sudah menjamin bahwa Al-Qur’an itu mudah untuk dihafal. Jadi kalau kita merasa berat, jangan khawatir, karena Allah yang akan memudahkan.
Lalu pertanyaan berikutnya, untuk siapa kita menghafal Al-Qur’an?
Jawabannya jelas: untuk Allah semata.
Bukan untuk pamer, bukan untuk mendapatkan pujian, bukan pula hanya untuk lomba. Menghafal Al-Qur’an adalah ibadah, tanda cinta kita kepada kalam Allah.
Kemudian ada yang bertanya, kenapa kita menghafal Al-Qur’an?
Apakah supaya masuk surga? Kalau begitu, apakah orang yang tidak hafal Al-Qur’an tidak bisa masuk surga? Tentu tidak begitu. Surga itu luas dan jalannya banyak.
Tujuan utama kita menghafal Al-Qur’an adalah agar kita mengambil pelajaran dan menjadikan Al-Qur’an sebagai petunjuk hidup. Hafalan itu penting, tapi yang lebih penting adalah bagaimana ayat-ayat itu hidup dalam keseharian kita.
Mari kita lihat contoh dari Surat Al-Fatihah.
Allah berfirman: “Maaliki yaumiddiin” – Allah adalah Pemilik Hari Pembalasan.
Kalau kita kehilangan rumah, kehilangan harta, bahkan kehilangan orang yang kita cintai, jangan putus asa. Karena semua itu akan dibalas oleh Allah dengan keadilan-Nya. Ada hikmah dalam setiap peristiwa.
Lalu muncul pertanyaan lagi: apakah kita cukup hanya menghafal saja, atau menghafal sekaligus mengambil pelajaran?
Jawabannya: keduanya.
Hafalan menjaga lisan kita dengan ayat-ayat Allah.
Tadabbur dan pemahaman menjaga hati kita agar tetap hidup dengan petunjuk Allah.
Sekarang kita lihat bagaimana Rasulullah ﷺ menghafal Al-Qur’an.
Beliau menerima wahyu selama 23 tahun. Ayat demi ayat turun sedikit demi sedikit. Tidak langsung 30 juz. Mengapa? Karena beliau bukan hanya menghafal, tapi juga mengamalkan dan menanamkan makna dalam kehidupan sahabat.
Beda halnya dengan kita di pesantren, ada santri yang bisa hafal 30 juz dalam waktu 2 tahun. Itu luar biasa, karena mereka memang fokus hafalan setiap hari. Tapi biasanya belum sempat mendalami makna dari setiap ayat sebanyak Rasulullah dan para sahabat dulu.
Maka yang ideal adalah: hafalan sekaligus tadabbur. Hafalannya dapat, pelajarannya juga hidup. Sehingga Al-Qur’an bukan hanya di lisan, tapi juga mengakar di hati dan membimbing amal kita sehari-hari.
Tujuan sejati dari menghafal Al-Qur’an bukan sekadar jumlah juz yang kita simpan, tapi sejauh mana ayat-ayat itu menjadi cahaya yang menuntun jalan hidup kita.
“Webinar penghafalquran.com”