“Hormat pada Ulama, Tapi Hanya Tunduk pada Allah”
Dalam Islam, kita diajarkan untuk menghormati ulama—para syaikh, guru, ustaz, dan orang-orang shalih. Tapi ingat, mereka hanya manusia biasa. Dihormati, bukan disembah. Diikuti nasihatnya, bukan diibadahi.
Namun ada yang keliru. Misalnya, seseorang memakai jimat seperti gelang, lalu berkata:
“Ini bisa menyembuhkan saya, saya dapat dari syaikh ini atau dari si fulan.”
Dia meyakini bahwa benda itu bisa memberi manfaat, bisa menjaga dirinya dari penyakit atau celaka. Padahal ini adalah bentuk kesyirikan, karena telah menggantungkan harapan kepada selain Allah.
Bahkan tidak sedikit ibu-ibu yang melakukan hal serupa.
Takut anaknya sakit atau meninggal, lalu dipakaikan kalung, benang merah, atau jimat tertentu agar si anak tetap sehat. Mereka percaya benda itu bisa menjaga anak mereka.
Padahal Allah telah memperingatkan:
“Dan jika Allah menimpakan sesuatu kemudaratan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya selain Dia.”
(QS. Al-An’am: 17)
Dan lebih tegas lagi:
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni dosa selain itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Barang siapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah tersesat sejauh-jauhnya.”
(QS. An-Nisa: 116)
Apa yang bisa memberi manfaat dan mudarat hanyalah Allah. Bukan benda. Bukan kalung. Bukan syaikh. Dan bukan siapa-siapa.
Tauhid itu ketika kita yakin sepenuh hati:
“Tidak ada yang bisa melindungi, menyembuhkan, dan menjaga… kecuali Allah.”
Yakinlah. Cukup Allah sebagai pelindung. Bukan jimat. Bukan kalung. Tapi doa dan tawakal.