Resume Kajian Tadabbur Kisah Qarun
Harta itu adalah perhiasan dunia.
Ia sesuatu yang membuat manusia senang, sebagaimana kita senang dengan istri, anak, dan kesehatan kita. Karena itu penting sekali kita bahas bagaimana cara menyikapi harta.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Ada dua hal yang terus mengikuti dan membesar bersama manusia: umur dan hartanya.”
Artinya, semakin bertambah usia, sering kali harta juga bertambah. Tapi di sisi lain, tanggung jawabnya pun semakin besar.
1. Mensyukuri Harta, Baik Sedikit Maupun Banyak
Hal pertama yang harus diperhatikan dalam menggunakan harta adalah bersyukur—baik ketika sedikit maupun banyak.
Para sahabat pun tidak semuanya fakir, tidak semuanya kaya. Tetapi mereka memiliki sikap yang benar terhadap harta.
Ada tiga sikap yang bisa kita pelajari dari mereka:
– Semakin banyak harta, semakin takut kepada Allah. Seperti Abdurrahman bin Auf r.a., yang hartanya sangat banyak, namun justru semakin banyak diinfakkan di jalan Allah. Kekayaan tidak membuatnya lalai, tapi justru memperbanyak ibadah.
– Berinfak dengan cinta. Saat mereka memberi, bukan hanya harta yang mereka keluarkan, tapi juga rasa cinta kepada Allah dan keyakinan bahwa infak itu akan kembali dalam bentuk kebaikan.
– Tidak bersikap seperti Qarun. Qarun adalah orang yang juga beriman di awalnya, tetapi tertipu oleh kekayaannya. Allah memberinya harta yang luar biasa banyak, sampai-sampai kunci-kunci gudangnya saja sulit dibawa oleh sekelompok orang kuat. Namun Qarun sombong dan berkata,
“Sesungguhnya aku memperoleh harta ini karena ilmuku.”
Ia lupa bahwa semua itu adalah pemberian Allah. Ia senang, tapi kesenangan itu membuatnya lalai dan sombong.
Padahal Allah berfirman bahwa Dia tidak menyukai orang yang berbangga-bangga atas hartanya.
2. Jangan Sampai Harta Menenggelamkan Kita
Qarun akhirnya ditenggelamkan bersama hartanya — sebuah simbol bahwa harta yang tidak disyukuri bisa menjadi penyebab kebinasaan.
Mungkin kita tidak seperti Qarun secara tampak, tapi bisa saja sikap kita mirip dengannya dalam bentuk yang lain:
– Berpura-pura miskin, agar tidak diminta berbagi dengan orang lain.
– Diuji dengan penyakit, hingga harta habis untuk berobat — padahal dulu enggan menginfakkan di jalan Allah.
– Diuji dengan anak yang tidak shalih, yang menghabiskan harta tanpa manfaat.
– Diuji dengan pasangan yang tidak shalih/shalihah, yang menjauhkan dari ketaatan.
– Dicabut kebahagiaan dari hati.
– Banyak harta, tapi hatinya kosong dan gelisah.
Semua ini bisa menjadi bentuk “tenggelam” yang berbeda-beda dari kisah Qarun.
3. Harta Itu Amanah, Bukan Milik Kita Sepenuhnya
Sesungguhnya harta yang kita miliki bukan sepenuhnya milik kita.
Di dalamnya ada hak orang lain — hak fakir miskin, hak kerabat, hak dakwah. Karena itu Allah berfirman:
“Berinfaklah dengan apa yang telah Allah karuniakan kepadamu, dan janganlah kamu lupakan bagianmu dari dunia.”
(QS. Al-Qashash: 77)
Artinya, kita boleh menikmati dunia, tetapi jangan lupa menunaikan hak Allah dan hak sesama di dalamnya.
4. Penutup: Ujian Harta
Kita semua sedang diuji dengan apa yang Allah titipkan — baik sedikit maupun banyak.
Allah ingin melihat apakah kita menahan harta itu untuk diri sendiri, atau membaginya untuk kebaikan.
Di akhirat nanti, kita akan melihat “rapor amal” kita.
Harta yang kita infakkan akan menjadi cahaya, sedangkan harta yang kita tahan akan menjadi penyesalan.
Maka mari kita jadikan harta bukan sekadar perhiasan, tetapi bekal menuju keridaan Allah.
Semua yang kita miliki di dunia ini — harta, waktu, ilmu, bahkan tubuh kita — akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah.
“Harta itu bukan tentang seberapa banyak yang kita miliki, tapi seberapa banyak yang kita syukuri dan manfaatkan di jalan Allah. Karena sesungguhnya bukan harta yang menentukan derajat kita, melainkan bagaimana kita memperlakukan harta itu.”
